Intisari-Online.com - Di masyarakat lapis bawah,
diam-diam
juga bermunculan inovasi cara minum kopi. Ada kopi jos, yakni kopi
biasa, yang setelah diseduh, ke dalam gelas dimasukkan api arang yang
membara.
Kemudian ada kopi klotok, yakni bubuk kopi yang
ditaburkan di panci panas, baru kemudian dituangkan air ke dalamnya dan
direbus sampai mendidih dan berbusa. Ini sebenarnya mirip dengan tradisi
kopi tiam. Di jalur pantura Juana, Rembang, Lasem, Bonang dan Binangun,
terkenal dengan kopi lèlètnya.
Kopi lèlèt adalah kopi biasa,
tetapi ditumbuk dan diayak sampai sehalus mungkin. Ampas kopi lelet
sangat halus, dan oleh penggemarnya, ampas ini kemudian dioleskan ke
batang rokok keretek yang akan diisap. Di Kabupaten Rembang, kopi lelet
juga dijadikan praktek prostitusi terselubung.
PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII, di
Jawa Timur,
dengan perkebunan kopi arabikanya di Kalisat Jampit, dan Sempol
(Pegunungan Ijen), juga melakukan inovasi minum kopi. Kepada para tamu
wisata agro kebun kopi mereka, disajikan atraksi menyangrai kopi,
menumbuknya, dan langsung menyeduhnya untuk disajikan.
Mereka
juga memromosikan kopi lanang, yakni kopi biasa, yang dalam satu butir
buah hanya terdiri dari satu biji kopi. Umumnya dalam satu butir buah
terdapat dua butir biji kopi. Kopi lanang dipromosikan sebagai peningkat
gairah seksual. Yang juga dipromosikan sebagai peningkat gairah seks
oleh PTPN XII adalah kopi kapakata (
coffea kapakata).
Ini merupakan spesies kopi yang baru diketemukan tahun 1974 di Angola, Afrika. Nama kopi
kapakata diterima dalam Kongres Botani Internasional, tahun 1999 di St Louis, AS; dan baru dicacat di
The International Code of Nomenclature for algae, fungi, and plants(ICN), tahun 2004.
Kendala utama bisnis kopi di
Indonesia,
adalah faktor mitos tentang bahaya kopi. Selama ini kopi selalu
diasosiasikan sebagai mengakibatkan gangguan jantung, dan meningkatkan
tekanan darah.
Cafeeine yang terkandung dalam biji kopi, memang berefek
stimulant (bukan afrodisiak, peningkat gairah
seks). Otomatis, akibat efek
stimulant ini, jantung akan berdegup lebih kuat. Hingga mereka yang menderita gangguan jantung, sebaiknya memang menghindari minum kopi.
Namun,
tidak benar bahwa kopi bisa mengakibatkan terkena gangguan jantung,
atau menaikkan tekanan darah. Sebab kopi justru bersifat
diuretik (melancarkan
urine), sehingga ber potensi menurunkan tekanan darah. Belakangan kopi
juga diketahui bisa menghindari resiko terserang kanker, dan membuat
gula darah lebih stabil, pada penderita
diabetes. (
Teguh Jiwabrata / idebisnis.biz)